Sabtu, 31 Oktober 2015

Wudhu

Pengertian wudlu
            Dilihat dari segi bahasa wudlu berarti : al-hasanu wa al-nazhafatu yang artinya baik, indah, dan bersih. Wudhu berasal dari akar kata wudhu’a-wadha atun yang berarti : baik, indah, dan bersih. Menurut istilah syarak wudhu berarti  : menggunakan air pada anggota  tubuh tertentu dengan cara – cara yang ditentukan

Dalil diperintahkan wudhu
            Wudhu disyariatkan berdasarkan Al-qur’an dan hadits, yang berasal dari Al-qur’an terdapat pada surah al-mai’dah ayat 6 :

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit [403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh [404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Rukun Wudhu
1.        Niat
2.        Membasuh muka
3.        Membasuh dua tangan sampai sikut
4.        Membasuh kepala
             5.        Membasuh kaki sampai mata kaki 
Sunat wudhu
            Selain yang wajib, rasulullahpun mencontohkan perbutan sunah dalam wudhu, yaitu menggosok gigi atau bersiwak/
HR. Malik, Hakim, Ahmad, dan Al-Nasa’I meriayatkan :
            “Kalau sekiranya tidak memberatkan  umatku , tentulah kusuruh menggosok gigi setelah melakukan wudhu”

Hal – hal yang membatalkan wudhu
Hal – hal yang dapat membatalkan wudhu ialah :
a.    Setiap benda yang keluar dari dubur dan qubul. Yang termasuk kategori ini ialah : kencing, dan buang air besar
b.    Keluar anfin atau kentut
c.    Keluar mani
d.    Tidur pulas, kecuali dalam posisi duduk tegak
e.    Hilang akal karena gila
f.     Menyentuh alat kelamin tanpa penghalang

g.    Dan bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya

Adab buang air besar


                Adab BAB atau BAK, menurut sayyid sabiq ( I, 1987 : 32 – 35 )Sebagai berikut :
    1.       Tidak membawa benda yang bertuliskan nama Allah. Nabi menimpan cincin yang bertuliskan   Muhammad Rasululloh apabila buang hajat
     2.       Jangan membaca isti’adzah dan basmallah dengan suara keras ketika masuk kamar kecil
     3.       Mencari tempat bersembunyi, dalam artian jauh dari keramaian orang banyak
    4.       Mengagungkan kiblat, dalam artian tidak menghadap ataupun membelakangi kiblat terkecuali dalam tempat yang tertutup
     5.       Tidak bercakap – cakap ( diam )
     6.       Tidak ditempat orang beristirahat atau ditempat biasa orang berkumpul
     7.       Menghindari lobang untuk menghindari gigitan binatang serangga yang membahayakan
     8.       Tidak di air yang biasa digunakan orang bersuci
     9.       Tidak diatas benda keras agar menghindari percikan air seni ketubuh atau pakaian
   10.   Disunahkan tidak buang air kecil sambil berdiri ( laki – laki )
  11.   Setelah BAB/BAK harus bersuci dengan air, batu dan benda lainnya yang dapat menghilangkan najis
   12.   Dalam bersuci hendaknya menggunakan tangan kiri
   13.   Mendahulukan kaki kiri ketika masuk ke kamar kecil
   14.   Mencuci tangan yang digunakan setelah BAB/BAK

   15.   Mengucek pakaian yang basah setelah BAB/BAK untuk menghindari percikan air yang najis

Thaharah



Tharah merupakan membesihkan segala yang kotor baik yang berwujud ( darah, kencing, dsb. ) maupun yang bersifat maknawi / tak terlihat ( hadats ). Golongan hanabilah memberikan pengertian tharah sebagai upaya untuk mengangkat hadats dan menghiangkan najis yang menghalangi sahnya salat.
Pengertian najis sendiri ialah kotoran pada tubuh, pakaian, atau alat yang disebabkan oleh benda – benda tertentu yang ditetapkan syariat.
Adapaun pengertian hadats ialah keadaan yang terkena kotor pada diri manusia yang disebabkan oleh sebab tertentu yang ditetapkan syariat.

Dasar hukum
            Islam merupakan agama yang sempurna. Syariat tharah, misalnya menu njukan betapa hebaatnya islam dalam menuntun dan menata kehidupan umat manusia, hingga hal – hal kecil seperti tharahpun disyariatkan dengan lengkkap.
            Didalam alquran banyak sekali ayat yang mengharuskan melakukan ibadah thaharah disertai dengan penjelasan tentang media, yang bisa dijadikan alat bersuci tersebut, Allah berfirman : Al baqarah ayat 222 :


Artinya :
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran“. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [QS. AL BAQARAH 2:222]
Ayat ini menunjukan bahwa Allah SWT. Sangat mencintai orang – orang yang selalu besih baik fisik, maupun rohaninya, Jika Allah SWt. Telah menyatakan cinta dan kasihnya, maka orang tersebut berada dalam keridaanya

Klasifikasi najs dan dasar hukumnya
            Najis dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :
1.    Najis mughallazhah
Ialah najis yang harus disucikan sebanyak 7 kali dan diawali dengan debu tanah.
2.    Najis Mukhafafah
Ialah najis air seni bayi laki – laki yang belum mengonsumi makanan selain ASI.
3.    Najis Mutawasithah
Yaitu najis selain dari dua najis diatas. Dan cara mensucikannya ialah dengan cara membasuhnya dengan air sampai bersih.